Kemarin,
ku tiup helaian rambut yang terjuntai di keningku...
Huufff
.........
Rambut
itu seperti terbang sesaat, sedetik, dua detik,
Mungkin
jika rambut itu adalah aku, dengan ringan aku bisa terbang sekali hembus
Wuuusshh
... wuussshh ..
ya seperti daun daun kering terhempas angin sore ini.
Kamis,
30 Mei 2013
Di
sini aku bercengkrama dengan layar tak bersuara hanya “tak tuk tak tuk” suara
tarian jemariku, jika dibayangkan dia pastilah berkata
“arika,
tidakkah kamu tahu, aku bosan, hanya melihat wajah sembabmu, sudah jelek, mata
sembab. Apalagi yang bisa diharapkan dari diri kamu itu ? tidakkah kamu tahu
betapa mengerikannya kamu ? masalah cinta hanya berputar pada satu nama, tidak
adakah yang lain? Setahuku, sudah banyak nama yang kau tuliskan di tubuhku ini,
kau ketikkan dengan senyuman, lalu apa ? seperti biasa, tombol delete ku tidak
pernah menolak untuk mengatakan “iya” jika beberapa waktu lagii ... tidak,
tidak, jika beberapa menit lagi, ... tidak... tidak ... jika beberapa detik
lagi kamu ... tidak, tidak, tidak .. jika SESAAT lagi kembali kamu hapus nama
mereka, dan yaah seperti biasa kamu kembali menuliskan nama yang dari seabad
lalu tidak berubah...”
Aku
? yaa... aku hanya perempuan yang mendapat julukan pohon kelapa tua tak
bercabang. Sekali menancapkan akar cinta, maka takkan berpindah, bahkan untuk
bercabangpun tidak. Layaknya kelapa di kuta kemarin, yaa kuta kemarin ... kuta
dimana aku kembali berkata “sudahlah arika, apa lagi ? lihat .. dia dengan
dunianya”
Tapi
dengan yakin, hati kecilku berkata “benarkah? Apa kamu yakin ? hey .. ayolah
.... I
know you so well, .. ask your heart, oowh no .. ! ask me, did you loving him
again again and again ? or not at all ? haha .. u’re a terrible liar, arika “
Ya
ya ... aku pembohong yang tidak bisa berbohong .. apakah itu lucu ?
Ya
tentu, ... aku memang patut untuk ditertawakan
Jangankan
kamu yang telah tersetting menjadi
secerdas ini untuk dapat memahami, bahkan kain tipis tua yang selalu menjadi
penghapus airmata telah lusuh dan telah keriput seperti telah uzhur, bukan
karena usianya, tapi karena memang dia menuakan diri untuk secepatnya pensiun
dari tugasnya .. semengerikan itukah aku?
Note ini dengan lantang berkata “more then
terrible woman ... ha .. “
Oke.
Cukup .! berhenti ...sekarang dengarkan aku ...
Seandainya
kamu mengerti yang namanya HATI, disini seperti rasanya ada perbaikan jalan
beraspal, masih tersisa .. seperti kamu memaku di pagar kayu, meski pakunya telah kamu cabut dengan rapi, coblalah perhatikan, ada bekas disitu ... sangat halus .. tapi bekas tetaplah bekas, dan hanya sekedar bekas
arhyka kusuma