Jumat, 07 Februari 2014

Senja sore di kampus ekonomi.




Dikursi taman paling sudut, saya perhatikan setiap kaki yang berjalan, tangan yang melambai, dan setiap mata yang melirik . mungkin saja mereka semua hanya sekedar hidup tanpa tujuan akhir dari semua itu.
Sebenarnya tujuan yang seperti apa yang pantas? Tujuan yang harus mensukseskan diri? Atau hanya sekedar bisa makan dan minum ? sebenarnya tujuan yang seperti apa yang membahagiakan seakan dunia yang kita geluti takkan berujung waktu, setidaknya untuk sehari saja kita diperkenankan lebih memiliki waktu di atas 24 jam.
Kadang begini, Kebahagiaan bukanlah perkara kuantitas namun kualitas dari cara kita menikmati rasa, kualitas dari suatu pertemuan menjadi penentu mutlak. Pertemuan yang seperti apa sehingga bisa dikatakan pertemuan yang berkualitas ? standart dan kategori seperti apa yang harus dipenuhi, ? lalu pertanyaan yang terakhir, apakah harus semuanya menjadi kaku dan terkesan formal sehinggga harus ditentukan ketegori dan batasannya? Hei … hidup itu adalah cara kita menikmati rasa, bahagia juga cara kita menikmati rasa, dan menikmati rasa itulah hidup dan bahagia, bukan begitu ?
Kenikmatan sendiri bukanlah sesuatu hal yang mahal, berkelas dan bergengsi, namun kenikmatan lebih kepada bagaimana cara kita menimbulkan rasa nyaman, melewati kesulitan dengan gagah.
Kenikmatan yang dipalsukan oleh charisma uang dan jabatan membuat kita terlena dengan kehidupan seakan permintaannya untuk hidup 1000 tahun lagi tercapai, jika semua diperdagangkan bahkan harga diri menjadi tawaran dan uang menjadi pematok segalanya, lalu apa yang bisa kita ambil gratis namun tetap elegan dan anggun ?
Hanya dengan dua mata, dua telinga aku fungsikan memperhatikan sekelilingku, dengan jari-jari kusam terus menari dalam notebook namun tetap menutup rapat-rapat mulut hingga tak ada yang menyadari bahwa aku mengawasinya.
Dengan lantang mereka berkata ini itu mengandalkan jabatan dan dompet tebal mereka untuk memerintah ini dan itu hingga puas sedangkan kita hanya seperti pencari nafkah tak berkelas. Dengan sangat sadar , aku paham bahwa memang uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Hukum ekonomi yang tidak pernah asing ditelinga, terus dikumandangkan dengan lantang menjadi suatu wajangan yang harus diafal agar menjadi seseorang yang perhitungkan dan tak lagi diragukan. Bukan kritikan, tapi itu yang terlihat.
Rasanya ingin menjambak dengan kasar, teriak ditelinganya dengan keras merusak gendang telinganya, atau hanya sekedar menyemprotkan kata-kata kotor. Ya .. saya yakin semuanya ingin merasakan itu, seperti kebebasan emosi dan ekspresi namun tkita terikat dengan yang namanya etika dan moral mahasiswa dipagari oleh peraturan yang sebenarnya ada hanya untuk dilanggar, bukan begitu ? Jika tak ada peraturan, lalu apa yang bisa kita langgar.
Dan kata terakhir dari tulisan saya sore ini adalah bahwa saya puas meluapkan emosi.
Matur thenkyu
Arhyka kusuma
Batman Begins - Diagonal Resize 2 Sumber Artikel Dari : http://info-kitaku.blogspot.com/2013/05/cara-membuat-animasi-kursor-di-blog.html#ixzz2Uy8pkCVO