Dengan layar aku bicara menggunakan mata dan gerakan
tangan. Suara-suara asing di sekeliling
membuatku mempertajamkan indera pendengar. Topik basi dan susah dicerna menjadi
makanan pokok telinga di senja ini.
Perpustakaanku yang dulu sunyi kini seakan tersulap menjadi
pasar senja di kampus. kadang hanya lirikan mataku dan hembusan nafa berat
untuk merespon mereka yang belum mengerti lelahnya hati dan letihnya airmataku
untuk berkayuh di pipi basahku.
Mereka hanya perduli dengan dunia mereka dan seakan menjadi
manusia robot yang digerakkan oleh ketakutan mereka di senja tadi. Pejabat,
peringkat, kesenjangan sosial, jabatan, dan status sosial yan mereka bicarakan
tadi membuatku ingin muntah dan membutuhkan antibiotik dosis tinggi untuk
mengontrol hentakan dan hantaman rasa kesal yang menggelegar di dada dan
menjadi pita-pita petir di mataku semakin panas.
Yang mereka tahu adalah aku mahasiswi penyendiri, dengan
baju dan krudung kuning, ber-note book, disekililingku penuh dengan kertas
koran dan buku-buku yang berserakan, lalu apa ?
Mereka tak mengerti alasan kenapa aku kesini mencari tenang
atau sekedar mendinginkan hati.
Sapaan dan senyuman mereka terasa benar-benar palsu dan
membuatku tersenyum berat sebelah (sinis.. yah... ) sudah seperti artis papan
atas dan jempolan, lalu apa?
Bedanya adalah mereka bukan pemain di layar tivi, tapi
mereka selalu dengan lihai bermain di layar mata. Meski asing, mereka adalah
tokoh atau pemeran pembantu di skenario hidupku ciptaan-Mu, dan aku harus
menghargainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar